Empat Startup Indonesia Resmi Tampil di Sushi Tech Tokyo Jepang

Berita Terkini – Seperti yang kita tahu, saat ini pemerintah sedang berupaya semaksimal mungkin untuk meningkaktan produk dalam negeri.

Sebagai informasi bahwa definisi produk dalam negeri adalah suatu barang atau jasa yang seluruh kegiatan produksinya dilakukan serta dihasilkan di dalam negara, mencakup tenaga kerja lokal, dan menggunakan bahan baku lokal.

Dalam peraturan hukum, maka produk dalam negeri juga dapat disebut dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

TKDN sendiri juga dianggap sebagai presentase nilai komponen suatu produk yang murni berasal dari dalam negeri atau campuran keduanya (dengan mayoritas dalam negeri), dan TKDN juga berperan penting dalam meningkatkan perekonomian suatu negeara.

Beberapa dampak positif dari TKDN atau produk dalam negeri ialah meningkatkan lapangan pekerjaan, mampu membantu mengentaskan kemiskinan, menekan angka ketergantungan terhadap produk impor, meningkatkan pendapatan negara, dan meningkatkan kualitas serta daya saing dengan produk global.

Dalam mendukung TKDN dan produk dalam negeri, maka saat ini pemerintah telah mempunyai sejumlah kebijakan, seperti kewajiban menggunakan produk lokal minimal 51 persen, memperluas e-Katalog LKPP, memberikan insentif sertifikasi, dan melakukan pembatasan serta pelarangan produk impor tertentu.

Beberapa produk impor yang telah resmi dilarang ialah seperti impor thrifting (merk luar) pakaian dan sepatu bekas, karena hal tersebut sangat mengganggu produk dalam negeri, dan membuat para masyarakat ketergantungan terhadap produk luar meskipun barang tersebut dikategorikan bekas.

Peraturan tentang TKDN dan produk dalam negeri juga telah resmi tertuang dalam UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, PP No. 29 Tahun 2018 tentang Pemberdayaan Industri, dan Inpres No. 2 Tahun 2022 tentang Percepatan P3DN.

Bukan hanya menerbitkan peraturan dan pelarangan produk impor tertentu saja, melainkan saat ini pemerintah sedang berfokus untuk mendukung produk dalam negeri agar mempunyai kualitas yang unggul dan dapat bersaing di pasar global.

Baru-baru ini, terdapat empat perusahaan startup asal Indonesia telah resmi menunjukan produk unggulannya di ajang teknologi global Sustainable Hight-City Technololgy (SusHi Tech) 2026.

Empat perusahaan startup asal Indonesia tersebut mengikuti acara SusHi Tech dengan melalui program Bekum Global Scale-Up yang diinisiasi Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf)

Sebelumnya, pihak Kemenkraf memang menggelar seleksi produk dalam negeri yang mampu dipamerkan di ajang pasar internasional Jepang, dan terdapat empat startup yang berhasil lolos dalam seleksi tersebut, ialah Bell Living Lab, Gapai, IJO, dan SPUN.

Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya mengatakan, startup Bell Living Lab dan IJO adalah perusahaan yang berfokus dalam pengembangan produk yang berkelanjutan dan sesuai dengan prinsip SDGs (Sustainable Development Goals).

Sedangkan, startup Gapai merupakan perusahaan yang berfokus dalam pengembangan koneksi antara perusahaan luar negeri dengan tenaga ahli dari Indonesia, khususnya dalam bidang hospitality, manufaktur, dan kesehatan.

Terakhir, SPUN merupakan perusahaan yang berfokus dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dengan membantu pemrosesan Visa masayrakat Indonesia ke berbagai negara di dunia.

Salah satu produk yang berhasil menjadi perhatian pasar global dalam acara SusHi Tech 2026, yakni produk dari startup Bell Living Lab.

 

Inovasi Baru

Bell Living Lab - Bell Society

Bell Living Lab berhasil mengembangkan inovasi baru yakni memanfaatkan limbah ampas kopi sebagai material utama dalam pembuatan industri fashion dan furnitur.

Arka Irfani, selaku pendiri Bell Luving Lab menjelaskan, dulu semasa kuliah dirinya kerap belajar eksperimen tentang fermentasi, dan pada beberapa waktu yang lalu dirinya melakukan eksperimen tentang bakteri yang sebenarnya bisa di produksi dalam bentuk lembaran (filamen).

Dalam proses eksperimennya, pihak Bell Luving Lab mampu menciptakan sebuah bakteri yang dapat dijadikan sebagai material kulit untuk produk fashion dan furnitur.

Arka Irfani mengaku bahwa saat ini telah terdapat 30 jenis produk yang telah berhasil diciptakan dan siap untuk diperjual belikan.

Sekitar 30 produk tersebut juga telah dipamerkan langsung dalam acara SusHi Tech 2026 Tokoyo Jepang.

Banyak pihak yang mengaku bahwa produk Bell Luving Lab adalah produk yang hebat dan berkelanjutan, karena mereka mampu mengubah barang yang awalnya dipandang rendah dan tidak berguna (limbah kopi) menjadi barang yang berguna, bermutu tinggi, dan diminati oleh banyak pihak.