Presiden Joko Widodo Sebut Indonesia Masih Jauh Dari Kata Resesi

Berita Terkini – Seperti yang kita tahu, akhir-akhir ini banyak masyarakat yang mengeluhkan bahwa harga beras mengalami kenaikan yang sangat drastis.

Banyak masyarakat yang mengaku kesulitan untuk membeli beras, pasalnya, selain mengalami kenaikan harga, beras juga mengalami kelangkaan stok di pasaran.

Sebagai informasi bahwa saat ini juga terdapat beberapa jenis beras yang dibatasi pembeliannya, jenis beras tersebut ialah jenis beras SPHP Bulog.

Ketua Umum  Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Arprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, kelangkaan beras di pasar disebabkan oleh tingginya harga beras dari produsen, sehingga banyak pasar ritel yang memilih tidak memasok beras terlalu banyak.

Diketahui, saat ini harga beras telah mencapai Rp 18.500 per kilogram dari harga sebelumnya yaitu Rp 13.000 per kilogram.

Harga beras saat ini sangat melambung tinggi dari harga eceran tertinggi (HTE) yang telah ditetapkan.

Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA), Arief Prasetyo Adi mengatakan, kenaikan harga dan kelangkaan stok beras dipengaruhi oleh adanya musibah El-Nino atau musibah kemarau berkepanjangan.

Adanya musibah El-Nino tersebut membuat jumlah produksi produktif petani menurun karena banyak sawah yang mengalami kekeringan.

Bukan hanya beras saja yang mengalami kenaikan harga, tetapi, saat ini juga ada beberapa komoditas bahan pangan seperti bawang putih, bawang murah, dan cabai yang juga mengalami kenaikan harga.

Kenaikan komoditas bahan pangan tersebut juga mempengaruhi tingkat inflasi ekonomi nasional.

Banyak masyarakat yang bertanya-tanya akankah negara Indonesia akan mengalami resesi, pasalnya saat ini sudah ada beberapa negara maju yang telah mengalami resesi.

Diketahui, resesi merupakan kondisi ketika perekonomian suatu negara mengalami penurunan dalam jangka waktu yang cukup lama. Resesi ekonomi dapat diukur berdasarkan turunnya PDB (Produk Domestik Bruto) atau GDP (Gross Domestic Product) selama dua kuartal berturut-turut.

Presiden Joko Widodo mengatakan, saat ini sudah ada beberapa negara maju yang masuk ke jurang resesi, beberapa negara tersebut ialah Inggirs, Jepang, dan Jerman.

Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa negara Indonesia masih sangat jauh dari kata resesi, dan saat ini angka probabilitas resesi Indonesia masih di angka 1,5 persen.

Angka resesi yang dimiliki oleh Indonesia tersebut masih sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara yang sudah masuk ke jurang resesi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo di Rapim TNI Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, pada Rabu, 28 Februari 2024.

 

Probabilitas Negara Maju Yang Masuk Jurang Resesi

Presiden Jokowi Tunjuk Perry Warjiyo sebagai Calon Gubernur BI - News Schoolmedia

Presiden Joko Widodo mengatakan, saat ini probabilitas resesi negara maju sangatlah tinggi dan kemungkinan besar sudah masuk ke jurang resesi.

Presiden Joko Widodo memberikan contoh bahwa probabilitas negara Jerman sudah menyentuh angka 72 persen, Uni Eropa sudah mencapai angka 60 persen, dan Amerika sudah menyentuh angka 40 persen.

Disisi lain, Presiden Joko Widodo juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur, pasalnya angka resesi negara Indonesia masih di angka 1,5 persen.

Menurut Presiden Joko Widodo, saat ini roda perekonomian di Indonesia masih sangat kuat di tengah adanya krisis perekonomian global.

Selanjutnya, Presiden Joko Widodo juga menjelaskan bahwa pertumbuhan perekonomian negara Indonesia masuk dalam peringkat tiga besar terbaik di antara negara G20.

 

Angka Inflasi Stabil

Jokowi Sentil Kapolda-Kapolres yang Sowan ke Ormas Pembuat Keributan

Presiden Joko Widodo mengatakan, tingkat inflasi negara Indonesia cenderung stabil  di angka 2,57 persen setiap tahunnya.

Perekonomian negara Indonesia juga mengalami pertumbuhan pada tahun 2023 yakni tumbuh 2,05 persen.

Presiden Joko Widodo menjelaskan, angka kemiskinan juga mengalami penurunan pada tahun 2023 yakni menurun hingga 9,36 persen.

Angka pengangguran juga mengalami penurunan di angka 5,32 persen, dan rasio ketimpangan juga turun di angka 0,388 persen.

Presiden Joko Widodo menegaskan, meskipun angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Indonesia terbilang sangat bagus dan stabil, tetapi, kita harus tetap waspada dan hati-hati dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

 

Memperkuat Sistem Pertahanan

Kementerian Komunikasi dan Informatika

Presiden Joko Widodo memerintahkan seluruh jajaran TNI dan Polri untuk meningkatkan sistem pertahanan dengan teknologi yang unggul, pasalnya, saat ini sangat marak serangan siber di masyarakat dan lini pemerintahan.

Presiden Joko Widodo menghimbau agar TNI dan Polri terus belajar untuk mengembangkan teknologi yang ada dan harus mampu memperkuat profesionalismenya terhadap masyarakat.

Disisi lain, Presiden Joko Widodo juga berharap agar TNI dan Polri mampu mendeteksi dan mengantisipasi adanya serangan-serangan siber.

COMMENTS

Comments are closed.