- Update BNPB Terkait Jumlah Korban Jiwa Banjir Bandang dan Tanah Longsor Pulau Sumatera
- Menteri ESDM Bahlil Cabut Izin Usaha Tambang Ilegal Secara Massal, Imbas Bencana di Sumatera Utara
- Sido Muncul Tingkatkan Penggunaan Energi Baru Terbarukan Hingga 91 Persen, Berikut Penjelasannya
- Menko Airlangga Sebut Peningkatan Ekonomi Kuartal III Akan Jadi Penentu Perhitungan UMP 2026
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka Sebut Indonesia-Afrika Mempunyai Historis Hubungan Kerja Sama Yang Kuat
Menkes Sebut Hujan di Jakarta Mengandung Mikoplastik Yang Membahayakan Bagi Kesehatan
Berita Terkini – Seperti yang kita tahu, akhir – akhir ini negara Indonesia sedang dilanda cuaca yang ekstream, yakni intensitas hujan terjadi sangat tinggi dibeberapa daerah di Indonesia.
Cuaca ekstream ini terjadi di beberapa daerah seperti Jakarta, Bali, Semarang, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hujan umumnya dianggap sebagai anugerah alam yang membawa kesejukan bagi masyarakat khususnya di Jakarta.
Namun, hujan memunculkan kekhawatiran baru bagi masyarakat Jakarta, pasalnya, akhir- akhir ini ditemukan bahwa hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik yang membahayakan kesehatan manusia.
Jakarta merupakan salah satu kota dengan tingkat konsumsi plastik tertinggi seperti produk rumah tangga yang berbahan plastik, penggunaan kemasan sekali pakai, dan kantong belanja.
Selain itu, Jakarta merupakan kota yang memiliki kualitas udara yang tergolong buruk karena aktivitas industri, polusi udara dari kendaraan, serta pembakaran sampah yang sering dilakukan. Hal ini yang menyebabkan timbulnya fenomena hujan yang mengandung mikroplastik.
Menurut World Health Organization (WHO), mikroplastik merupakan partikel plastik yang memiliki kurang dari 5 milimeter. Sementara sampel yang ditemukan dalam riset itu, berukuran mulai dari 200 mikron, tolok ukur yang lebih kecil dari milimeter, butuh alat bantu yakni seperti mikroskop untuk melihatnya.
Diketahui, partikel mikroplastik ini tidak hanya mencemari laut tetapi sekarang juga sudah mencemari udara dan hujan yang kita hirup dan kita gunakan sehari – hari. Partikel mikroplastik akan menjadi bahaya yang serius jika terus menerus dihirup oleh manusia karena akan menimbulkan gangguan pernapasan, gangguan sistem metabolik dan endokrim serta gangguan sistem pencernaan. Sehingga, dalam jangka panjang, partikel ini secara tidak langsung akan menembus jaringan tubuh manusia.
Tanggapan Menkes Indonesia

Kementerian Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menghimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap ancaman dari partikel mikroplastik yang ditemukan di udara Jakarta.
Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya perlindungan diri saat beraktivitas diluar ruangan dengan kondisi cuaca saat ini. Menurut Budi Gunadi Sadikin, langkah kecil untuk meminimalisir risiko dari paparan mikroplastik adalah menggunakan masker dan mengurangi berkegiatan di luar ruangan ketika hujan turun karena pada waktu tersebut partikel mikroplastik cenderung turun bersama air hujan dan mengendap di udara sekitar permukaan tanah.
Budi Gunadi Sadikin juga menyarankan agar masyarkat dapat mengurangi penggunakan plastik ataupun sumber polusi yang berasal dari mikroplastik. Hal ini disampaikan untuk mencegah meluasnya mikroplastik dan membahayakan masyarakat Indonesia.
Pakar Menyebutkan Bahwa Mikroplastik adalah Ancaman
Menurut Annisa, risiko paparan mikroplastik lebih tinggi di wilayah perkotaan yang padat penduduk. Aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai berkontribusi besar terhadap akumulasi partikel plastik di udara dan lingkungan.
Annisa menekankan bahwa kesadaran masyarakat untuk membatasi konsumsi plastik perlu ditingkatkan agar dampaknya dapat ditekan.
Upaya tersebut perlu diiringi dengan dukungan dan kebijakan dari pemerintah serta partisipasi dari sektor industri untuk mengambangkan kemasan yang ramah lingkungan.
Selain itu, edukasi publik mengenai bahaya mikroplastik dan pentingnya pengelolaan sampah yang benar harus terus digencarkan agar masyarakat tidak hanya memahami risikonya, tetapi juga terdorong untuk mengambil tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Jika air hujan yang seharusnya membersihkan bumi kini tercemar mikroplastik, maka sudah saatnya kita mengevaluasi pola konsumsi dan pengelolaan sampah plastik. Perlindungan lingkungan berarti juga perlindungan terhadap diri kita sendiri.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, diharapkan tingkat pencemaran mikroplastik di udara maupun air dapat ditekan, sehingga tercipta lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.