Bahlil Tanggapi Isu Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi

Berita Terkini – Seperti yang kita tahu, saat ini sebagian besar masyarakat +62 sedang dihebohkan dengan isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non-Subsidi.

Sebagai informasi bahwa sejak beberapa tahun yang lalu, BBM di negara Indonesia memang dibagi menjadi 2 kategori, yakni BBM Subsidi dan BBM Non-Subsidi.

BBM Subsidi merupakan bahan bakar dengan harga yang relatif lebih rendah dan terjangkau karena dibantu dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan diperuntukan oleh masyarakat kurang mampu. Contoh jenis BBM Subsidi ialah seperti Pertalite (RON 90) dan Bio Solar (CN 48) untuk diesel.

Sementara, BBM Non-Subsidi merupakan bahan bakar dengan harga yang relatif lebih tinggi dan harganya mengikuti penyesuaian mekanisme pasar. BBM Non-Subsidi juga mempunyai kualitas yang jauh lebih unggul dan bebas di beli oleh siapa saja. Contoh jenis BBM Non-Subsidi ialah seperti Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95, Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53).

Diketahui, sejak beberapa pekan yang lalu, harga BBM Non-Subsidi memang mengalami kenaikan, dan banyak warga yang protes serta bertanya-tanya mengapa harganya naik sangat signifikan dan faktor apa yang menyebabkan kenaikan harga tersebut.

Baru-baru ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, BBM Non-Subsidi jenis Pertamina Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53) memang mengalami penyesuaian harga per 18 April 2026.

Peraturan tentang penyesuaian harga tersebut telah resmi tertuang dalam Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang merupakan perubahan atas Kepmen ESDM Nomor 62 K/12/MEM/2020, badan usaha diberi kewenangan untuk melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi setiap bulan.

Bahlil Lahadalia menjelaskan, penyesuaian harga bukan semata-mata merujuk pada kenaikan saja, melainkan suatu saat pasti harganya bisa mengalami penurunan juga.

Definisi dari kata penyesuaian sendiri ialah merujuk pada proses, cara, pencocokan, dan penyepadanan terhadap faktor yang mempengaruhi hal tersebut.

Menurut Bahlil Lahadalia, faktor yang dapat mempengaruhi penyesuaian harga BBM Non-Subsidi ialah harga minyak mentah dunia.

Bahlil Lahadalia mengaku bahwa untuk BBM nonsubsidi itu ada penyesuaian harga, tahap pertama sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian. Kalau harganya turun, ya tidak naik. Tetapi kalau harga naik, mungkin akan ada penyesuaian.

Meskipun saat ini harga BBM Non-Subsidi resmi disesuaikan, tetapi Bahlil Lahadalia menjamin bahwa BBM Subsidi jenis Pertalite (RON 90) dan Solar (CN48) tidak akan mengalami kenaikan harga atau penurunan harga, alias tetap.

Disisi lain, Bahlil Lahadalia juga memberikan informasi tentang formula perhitungan penyesuaian harga BBM Subsidi, yakni jika harga minyak mentah dunia atau Indonesian Crude Price (ICP) masih dibawah USD 100 (per barel), maka tidak ada yang namanya penyesuaian atau kenaikan harga.

Bukan hanya memberikan informasi saja, tetapi Bahlil Lahadalia juga menghimbau kepada seluruh masyarakat kalangan menengah keatas untuk tidak menurunkan standar pengisian bahan bakar kendaraan pribadinya ke BBM Subsidi disaat harga BBM Non-Subsidi mengalami kenaikan, karena sampai kapanpun BBM Subsidi hanya diperuntukan kepada masyarakat kurang mampu saja.

Dengan sedikit celotehan dan sindirian, Bahlil Lahadalia mengatakan, apa mereka (masyarakat mampu) tidak malu karena sudah merampas hak saudara kita.

Untuk memperketat penyaluran BBM Subsidi agar tepat sasaran, pemerintah melalui Pertamina juga telah menerapkan program QR Code, dan Pertamina juga telah memblokir sejumlah data kendaraan yang telah terbukti melakukan manipulasi data agar mendapatkan QR Code.

Hal tersebut dapat menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menegakan keadilan dan menjaga hak masyarakat yang memang membutuhkan.

 

Presiden Prabowo Subianto Panggil Menteri ESDM

Prabowo Minta Laporan Lengkap, Bahlil Ungkap PNBP Energi Sudah 85 Persen - Wartakotalive.com

Karena maraknya isu kenaikan harga BBM, akhirnya Presiden Prabowo Subianto resmi memanggil Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Istana Kepresidenan Jakarta.

Pertemuan tersebut membahas tentang pengaruh harga minyak mentah dunia terhadap kebijakan energi nasional dan penerimaan negara.

Selain membahas mengenai harga minyak mentah, Presiden Prabowo Subianto juga membahas tentang langkah penataan sektor pertambangan ke depan agar sesuai dengan regulasi lingkungan dan hukum yang berlaku yakni UU No.3 Tahun 2020 tentang meminimalkan dampak kerusakan lingkungan.

Bukan hanya berfokus terhadap regulasi lingkungan saja, melainkan Presiden Prabowo Subianto juga meminta Bahlil Lahadalia untuk meningkatkan porsi kepemilikan negara dalam sektor pertambangan nasional dan internasional.

Hal ini selaras dengan cita-cita negara Indonesia untuk menjadi negara maju Indonesia Emas 2045, yakni dengan meningkatkan pendapatan negara dalam sektor sumber daya alam.

Bahlil Lahadalia mengaku bahwa sejak beberapa bulan yang lalu, Bapak Presiden (Prabowo Subianto) telah berangkat ke berbagai negara untuk mencari pasokan minyak, berpergian tersebut bukanlah untuk jalan-jalan. Melainkan untuk memikirkan 280 juta nyawa yang ada di bangsa ini, dan memikirkan bagaimana caranya agar seluruh masyarakat dapat hidup nyaman dan sejahtera, tanpa kekurangan sumber daya energi dan mineral.