Satgas Prediksi Adanya Lonjakan Covid-19 di Akhir Tahun

Berita Terkini – Saat ini kasus Covid-19 di Indonesia sudah mereda, banyak sekolah dan fasilitas umum yang sudah mulai dibuka.

Wiku Adisasmito, selaku Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 mengatakan, masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan meskipun kondisi saat ini sudah kondusif.

Namun beberapa bulan lagi kita akan memasuki tahun baru, dimana semua orang akan merayakan Natal dan tahun baru.

Libur Natal dan tahun baru sudah diprediksi akan menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 ketiga di Indonesia.

“Dengan adanya lonjakan ketiga yang dihadapi berbagai negara di dunia, dan melihat dari pola kenaikan kasus setelah event atau kegiatan besar di Indonesia, kita tetap perlu waspada dan mengantisipasi lonjakan ketiga di Indonesia,” ujar Wiku.

Wiku mengatakan, kita harus belajar dari lonjakan-lonjakan sebelumnya,.

Kasus Covid-19 kerap mengalami lonjakan setelah ada acara-acara besar seperti Idulfitri, Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Pembatasan mobilitas dan kegiatan sosial ekonomi yang mulai dilonggarkan perlahan menjadi kekuatan yang akan berubah menjadi tantangan apabila tidak dibarengi dengan protokol kesehatan yang ketat,” ujar Wiku.

“Dengan adanya wacana perizinan kegiatan besar, ditambah lagi kita segera memasuki periode Natal dan Tahun Baru, kehati-hatian dan tidak gegabah dalam menjalankan aktivitas perlu menjadi modal dasar kita,” ujar Wiku.

Wiku juga mengatakan, kasus Covid-19 mengalami penurunan grafik saat pemerintah menerapkan PPKM.

PPKM terbukti efektif untuk menurunkan angka Covid-19.

Disisi lain, masyarakat juga harus mematuhi protokol kesehatan yang ketat, untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain.

“Hal ini menunjukkan bahwa upaya kita untuk menjaga protokol kesehatan 3M belum maksimal dan belum dapat menjadi faktor utama penurunan kasus Covid-19,” ujar Wiku.

 

Menerapkan Pembatasan Sosial

Wiku menyampaikan, saat ini Pemerintah hanya bisa melakukan Pembatasan Sosial untuk menurunkan angka kasus Covid-19.

Namun Pembatasan Sosial bila dilakukan secara terus-menerus akan menyebabkan dampak negatif terhadap ekonomi nasional.

“Untuk itu saya tekankan bahwa apa pun upaya yang akan dilakukan, jika pelaksanaan dan pengawasan protokol kesehatan tidak kuat, maka hal-hal tersebut tidak akan berjalan dengan efektif,” ujar Wiku.

Wiku menegaskan, Pembatasan Sosial harus diterapkan secara berkala, dan tidak bisa dijadikan patokan untuk menekan angka Covid-19.

Cara lain dari menurunkan angka Covid-19 adalah dengan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, dan masyarakat berkenan di vaksinasi.

“Selalu memakai masker ke mana pun kita pergi dan sebisa mungkin tidak berkerumun. Ini adalah hal yang paling mudah dan murah yang bisa kita lakukan,” ujar Wiku.

 

Capaian vaksinasi 50 persen tidak menjamin lonjakan

Tri Yusni Miko, selaku Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) mengatakan, mobilitas dan kerumunan masyarakat yang semakin tinggi, akan menyebabkan lonjakan ketiga.

Tri Yusni juga mengatakan, vaksinasi Covid-19 yang sudah mencapai 50 persen dari penduduk Indonesia, tidak menjamin tidak adanya lonjakan.

Lonjakan kasus Covid-19 masih bisa terjadi bila mobilitas masyarakat semakin meningkat saat libur di akhir tahun.

Menurut Tri Yusni, lonjakan kasus Covid-19 setelah libur akhir tahun, akan terjadi paling lambat Maret 2022.

Oleh karena itu, Tri Yusni menghimbau masyarakat agar selalu menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Jangan sampai kondisi yang sudah membaik dan jumlah kasus yang menurun, justru membuat lengah dan abai”, ujar Tri Yusni.

“Jika hal ini dilupakan, maka risiko peningkatan kasus akan menjadi kenyataan”, ujar Tri Yusni.

“Pandemi belum usai, potensi lonjakan kasus masih bisa terjadi. Karenanya tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan,” tegas Tri Yusni.