- Presiden Prabowo Subianto Lakukan Kunjungan Kenegaraan Ke Rusia dan Bertemu Vladimir Putin, Berikut Penjelasannya
- Presiden Prabowo Subianto Gelar Program Percepatan Pembangunan Kampung Nelayan
- Negara Indonesia Resmi Kerja Sama Dengan Jepang Dalam Pengembangan Satwa Liar
- Pemerintah Jamin Harga BBM Subsidi dan Non-Subsidi Tidak Mengalami Kenaikan
- Pemkot Semarang-Kendal Kolaborasi Proyek PSEL
IAS Group Bantu Percepatan Pemulihan Pasca Bencana Sumatera dan Aceh
Berita Terkini – Seperti yang kita tahu, beberapa pekan yang lalu, saudara kita yang tinggal di daerah Pulau Sumatera Utara (Sumut) dan sekitarnya telah mengalami bencana banjir bandang dan tanah longsor.
Sebagai informasi bahwa bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Sumut berlangsung selama beberapa hari, dan banyak korban jiwa yang berjatuhan akibat bencana tersebut.
Berdasarkan data yang ada maka dijelaskan bahwa saat ini telah terdapat 1.106 korban yang meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor.
Selanjutnya, terdapat 276 korban hilang, dan 5.000 korban luka-luka, jadi jika di total secara keseluruhan, maka terdapat puluhan ribu penduduk di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat yang terkena dampak dari bencana banjir bandang dan tanah longsor tersebut.
Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengumumkan bahwa saat ini terdapat kurang lebih 3.300 unit rumah rusak berat, 4.100 unit rumah rusak sedang, 20.700 unit rumah yang mengalami rusak ringan, 1.100 unit fasilitas umum rusak berat, 270 unit fasilitas kesehatan rusak sedang hingga berat, 509 fasilitas pendidikan rusak sedang hingga berat, 338 rumah ibadah rusak sedang hingga berat, 221 gedung atau kantor rusak sedang hingga berat, dan 405 jembatan rusak berat.
Presiden Prabowo Subianto berkomitmen bahwa dirinya dan seluruh jajaran Kabinet Merah Putih akan segera melakukan pemulihan pasca bencana di daerah terdampak.
Prioritas utama Presiden Prabowo Subianto saat ini ialah pembenahan dan pembangunan kembali infrastruktur lalu lintas darat (jembatan, jalan raya, terowongan, underpass, dan flyover).
Menurut Presiden Prabowo Subianto, infrastruktur lalu lintas darat adalah kunci utama untuk menyelamatkan banyak saudara kita yang terdampak bencana, karena dengan adanya infrastruktur lalu lintas darat maka pasokan logistik dan obat-obatan dapat segera tersalurkan.
Berdasarkan data yang ada, maka dijelaskan bahwa saat ini pemerintah bersama pihak terkait telah melakukan pembangunan 10 jembatan Bailey darurat pasca bencana, 10 jembatan tersebut meliputi Jembatan Teupin Mane (Aceh) (39meter), Jembatan Jeumpa (Aceh) (18meter), Jembatan Teupin Radeup (Aceh) (30meter), Jembatan Anggoli (Sumatera Utara) (33meter), Jembatan Bailey Desa Garoga (Sumatera Utara), Jembatan Aran Dalu (Sumatera Utara) (26meter), Jembatan Padang Mantuang (Sumatera Barat) (30meter), Jembatan Sikabau (Sumatera Barat) (18meter), Jembatan Bawah Kubang (Sumatera Barat) (21meter), dan Jembatan Supayang (Sumatera Barat) (36meter).
Untuk mempercepat pemulihan pasca bencana Sumatera dan sekitarnya, maka pemerintah mengajak para Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pihak Swasta, dan para investor untuk turut ambil bagian dalam melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Baru-baru ini, pihak InJourney Aviation Services (IAS) Group telah resmi menggelar program untuk membantu pemerintah dalam mempercepat pemulihan pasca bencana Sumatera dan Aceh.
Diketahui, IAS Group merupakan Anak Perusahaan atau Sub-Holding dari PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) yang bergerak dalam bidang penyediaan jasa layanan aviasi, kargo, dan logistik di seluruh Indonesia.
Direktur Operasi InJourney Aviation Services, Danny Thaharsyah mengatakan, program percepatan pemulihan pasca bencana Sumatera dan Aceh tersebut diberi nama dengan “IAS Tanggap”.
Dalam pelaksanaannya, program IAS Tanggap berfokus terhadap perbaikan dan revitalisasi pendidikan dan tempat ibadah, pembetulan sistem drainase dan sanitasi warga, membangun persediaan air bersih, meningkatkan fasilitas pendukung pendidikan untuk para pelajar dan mahasiswa, membangun kembali dan merenovasi fasilitas kesehatan, dan memberikan bantuan sosial seperti logistik dan obat-obatan terhadap korban terdampak.
Terdapat 4 lokasi yang akan dijadikan fokus utama dalam penyaluran program IAS Tanggap, 4 lokasi tersebut meliputi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang, TPQ Al-Ihsan Al-Islamy, Pondok Pesantren dan Masjid Da’rul Mukhlisin, dan Meunasah Asy-Syura.
Danny Thaharsyah menjelaskan, saat ini pihak IAS juga telah menggandeng sejumlah entitas dibawah naungan IAS Group untuk membantu mempercepat pemulihan pasca bencana Sumatera dan Aceh, sejumlah entitas yang dimaksud yakni seperti Gapura, Angkasa Pura Support, IAS Support, IAS property, dan IAS Hospitality.
Danny Thaharsyah mengaku bahwa IAS Tanggap juga merupakan bentuk bukti nyata bahwa pihaknya memang mempunyai kepedulian dan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang tinggi.
Bahkan, sejak beberapa tahun yang lalu, IAS Group telah resmi mengimplementasikan program CSR (Corporate Social Responsibility) dan SDGs (Sustainable Development Goals) dalam kegiatan operasional bisnisnya, selain itu, pihak IAS Group juga telah membuat dan melaporkan laporan berkelanjutan yang rutin setiap tahunnya.
Penjelasan Menkeu Purbaya

Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, total keseluruhan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan kembali dan pemulihan pasca bencana Pulau Sumatera dan Aceh yakni mencapai Rp 70 triliun rupiah.
Estimasi total keseluruhan dana yang dibutuhkan tersebut berasal dari perhitungan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, kebutuhan anggaran pemulihan pasca bencana akan dilakukan dengan skema multiyears, yakni pada tahun pertama sebesar Rp 28 triliun, tahun kedua sebesar Rp 28 triliun, dan tahun ketiga sebesar Rp 16 triliun.
Dana tersebut akan digunakan untuk berbagai macam kegiatan pemulihan pasca bencana, seperti biaya operasional, biaya dukungan ketahanan bencana, biaya tim pelaksana satgas, biaya pembangunan lahan dan irigasi, bantuan pakan dan ternak, bantuan benih, dan biaya rehab.
Purbaya Yudhi Sadewa mengaku bahwa saat ini total anggaran pemulihan pasca bencana masih dalam proses pengembangan, dan masih di proses oleh Badan Perencanaan Pengembangan Nasional (Bappenas) agar nantinya tidak terjadi tumpang tindih antar instansi atau pihak terkait lainnya, jika anggaran telah disetujui oleh seluruh pemangku kepentingan, maka anggaran akan diteruskan ke Satgas Bencana yang dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri, dan terakhir anggaran diajukan dan dievaluasi oleh Kementerian Keuangan.