Angka Putus Sekolah Meningkat Pesat Akibat Pandemi Covid-19

Berita TerkiniKementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menganalisis adanya peningkatan putus sekolah selama adanya pandemi Covid-19 di Indonesia.

Jumeri, selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen Paud Dasmen) Kemendikbudristek mengatakan, adanya pandemi Covid-19 ini membuat angka putus sekolah meningkat sangat pesat.

Setelah di data total angka putus sekolah di Indonesia mencapai 1,12 persen atau meningkat hingga 10 kali lipat dari sebelumnya.

“Tingkat putus sekolah itu sekitar 1,12 persen. Biasanya angka putus sekolah hanya meningkat 0,1-0,2,” kata Jumeri.

“saat ini naik hingga 10 kali lipat untuk putus sekolah SD di tahun 2019 dibandingkan dengan sekarang,” kata Jumeri.

“kemudian ada dampak-dampak lain yang sangat masif,” kata Jumeri saat melakukan sebuah webinar, pada tanggal 21 September 2021.

Adanya peningkatan angka putus sekolah membuat Indonesia kritis pendidikan, pasalnya para pelajarlah yang akan meneruskan generasi bangsa di masa depan.

Jumeri menegaskan, pihaknya akan terus berupaya untuk menangani kasus anak putus sekolah.

Pihaknya juga akan melakukan riset lebih lanjut mengapa angka putus sekolah meningkat.

Jumeri juga mengatakan, pemerintah harus mempercepat gerakan vaksinasi di Indonesia.

Dengan percepatan vaksinasi maka sekolah akan segera dibuka dengan pembelajaran tatap muka (PTM).

Oleh karena itu, bila guru-guru dan siswa sudah divaksin maka wajib untuk membuka pembelajaran tatap muka (PTM).

Hal ini dapat menurunkan angka putus sekolah di Indonesia.

Banyak pelajar yang mengaku bahwa dirinya sangat kesulitan untuk mengikuti sekolah daring, pasalnya mereka harus selalu fokus dan terkadang kendala dengan jaringan.

Adapun sejumlah orang tua siswa yang mengeluh karena adanya pembelajaran online tersebut, karena mereka susah untuk membagi waktu pekerjaan rumah dan medampingi sekolah.

“Dalam SKB (Empat Menteri) disebutkan bahwa apabila satuan pendidikan gurunya sudah divaksin, maka wajib membuka opsi tatap muka dan daerah wajib mengizinkan untuk pembukaan tatap muka, apalagi sudah masuk level 1-3,” ujar Jumeri.

 

Sudah ada 42 persen sekolah yang melakukan PTM

Sampai saat ini, tepatnya pada tanggal 22 September 2021, sudah ada 42 persen sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka (PTM).

Masih ada 58 persen sekolah yang belum menerapkan PTM, dan masih melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Hal ini bisa terjadi karena vaksinasi di Indonesia belum seluruhnya merata.

Hal ini juga bisa terjadi karena pertumbuhan angka Covid-19 di setiap daerah.

“PTM kita masih terbatas, yang masih PJJ 58 persen, yang PTM baru 42 persen, yg tertinggi PTM di Aceh kemudian Maluku Utara dan Sumatera Barat dan terendah DKI Jakarta,” ujar Jumeri.

“Meskipun DKI Jakarta sudah 660 sekolah membuka PTM terbatas tapi frekuensinya masih sangat rendah, yaitu seminggu hanya satu kali atau sehari,” lanjutnya.