Ketika Sampah Tak Lagi Jadi Masalah: Inovasi Kampus dan Masyarakat Bangun Ekonomi Sirkular

Berita Terkini – Seperti yang kita tahu, sampah merupakan permasalahan lingkungan yang sering kita jumpai di kehidupan sehari – hari.  Sampah berupa botol bekas, plastik serta barang – barang yang kita gunakan untuk menjalankan aktivitas ternyata dapat merusak lingkungan jika tidak di daur ulang.

Indonesia merupakan negara ke 5 yang menghasilkan sampah terbanyak di dunia. Sampah nasional yang ditimbun pada tahun 2026 mencapai 141.926 ton setiap harinya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa produksi sampah di Indonesia sangat tinggi dan menjadi tantangan bagi masyarakat maupun pemerintah untuk menginovasi sampah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi.

Untuk mengurangi limbah sehari – hari dan mendaur ulang sampah, maka diperlukan nya inovasi dengan mewujudkan konsep ekonomi  sirkular.

Sebagai informasi, konsep ekonomi sirkular adalah sistem ekonomi yang berusaha mengurangi sampah dan penggunaan sumber daya dengan cara menjaga agar barang dan bahan tetap digunakan selama mungkin.

Mahasiswa Ubah Plastik Jadi Bingkai Kacamata

Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Fajar dalam mengembangkan inovasi pengolahan limbah plastik bersama kelompok pengolah sampah Payabo Recycle.

Sebagai informasi Payabo diambil dalam bahasa Makassar yaitu sekelompok orang yang mengumpulkan barang bekas untuk dijual. Yang dikembangkan menjadi Payabo Recycle, artinyakelompok yang mengembangkan kegiatan pengumpulan dan pengolahan barang bekas menjadi produk yang lebih bernilai.

Ketua Tim Pelaksana Pengabdian Masyarakat Program BIMA 2026, Fauziah, menjelaskan vahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya pada mesin tetapi kemampuan mitra dalam melakukan produksi.

Inovasi yang di unggulkan pada program ini yaitu mesin injeksi pneumatik semiotomatis, mesin ini dilengkapi dengan suhu digital dan teknologi pneumatik terintegrasi.

Fauziah menjelaskan bahwa mesin ini memungkinkan limbah plastik diolah dengan proses pencetakan yang lebih terkontrol sehingga menghasilkan produk dengan bentuk dan ukuran yang lebih presisi. Limbah plastik tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai produk, seperti bingkai kacamata dan aksesori jam tangan.

Payabo Recycle merupakan salah satu penerapan ekonomi sirkular dimana sampah plastik yang dianggap sebagai limbah yang hanya bisa mencemari lingkungan kini menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi.

Hal ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara kampus dan masyarakat dapat menciptakan manfaat lingkungan sekaligus peluang ekonomi.

Program Banyuwangi Hijau

Sebagian kota yang ada di Indonesia sudah menerapkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, salah satu nya yaitu Banyuwangi melalui program mereka yakni Program Banyuwangi Hijau.

Program Banyuwangi Hijau merupakan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Program ini tidak hanya berfokus pada membuang sampah, tetapi mengelola sampah sejak dari rumah tangga hingga proses pengolahan agar sampah yang masih memiliki nilai dapat dimanfaatkan kembali.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menjelaskan bahwa sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di Banyuwangi merupakan salah satu yang terbaik dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai model pengelolaan sampah di tingkat nasional. Pernyataan tersebut disampaikan saat dirinya melakukan kunjungan ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Balak yang berada di Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Bulan Mei 2026, TPS 3R Balak telah mengelola sekitar 652 ton sampah anorganik, dimana  sampah anorganik yang sebelumnya sudah dipilah seperti plastik dapat dijual kepada pihak yang melakukan daur ulang.

Sistem tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada pembuangan, tetapi juga pada upaya mengurangi volume sampah sekaligus memberikan nilai tambah.

Keberhasilan Banyuwangi dalam mengelola sampah dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

Melalui dukungan dari masyarakat dan pemerintah, menerapkan konsep ekonomi sirkular akan menjadi ringan dan dapat dikembangkan secara meluas.

Hal ini membuktikan bahwa apabila sampah dikelola secara inovatif dan berkelanjutan, sampah tidak hanya dapat mengurangi beban lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat.