- Wamenkomdigi Perkuat Keamanan Siber Layanan Publik
- Wamentrans Viva Yoga Umumkan Transmigrasi Bukan Hanya Soal Perpindahan Penduduk, Berikut Penjelasannya
- Presiden Prabowo Subianto Komitmen Bangun Indonesia Menjadi Mandiri Energi
- BNN Gerebek Pabrik Narkotika di Tangerang, Berikut Penjelasannya
- Presiden Prabowo Akui Indonesia Dapat Menjadi Bangsa Terkaya Keempat Didunia Dengan Syarat Berikut
Wamenkomdigi Perkuat Keamanan Siber Layanan Publik
Berita Terkini – Seperti yang kita tahu, saat ini teknologi sudah berkembang dengan sangat pesat, dan setiap tahun pasti ada saja gebrakan atau pembaruan dari dunia teknologi.
Sebagai informasi bahwa teknologi sudah menjadi sahabat kita dalam kehidupan sehari-hari, pasalnya setiap kegiatan yang akan kita lakukan pasti membutuhkan teknologi, contohnya yakni seperti diskusi dengan teman di sosial media, mencari informasi di internet, melakukan transaksi dengan teknologi m-banking atau semacamnya, dan masih banyak lagi.
Diketahui, dunia teknologi memang membawa banyak manfaat dan dampak positif bagi kehidupan manusia, tetapi disisi lain, teknologi justru dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia, karena terdapat beberapa oknum yang juga memanfaatkan teknologi untuk berbuat kejahatan atau meretas data seseorang demi mendapatkan keuntungan.
Kejahatan dalam dunia teknologi tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara dan banyak sekali istilah atau penyebutannya, contohnya yakni seperti peretasan atau hacking, phising, penipuan identitas, penyebaran malware atau virus, kejahatan keuangan digital, pelanggaran privasi, cyberbullying, eksploitasi seksual, penipuan e-commerce.
Berdasarkan data yang ada, maka dijelaskan bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai tingkat ancaman penipuan sektor keuangan paling tinggi di dunia.
Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia mengumumkan bahwa saat ini total kerugian yang dialami oleh masyarakat Indonesia akibat penipuan digital keuangan mencapai nilai yang sangat fantastis, yakni hingga Rp 4,6 triliun rupiah.
Serangan siber atau kejahatan digital bukan hanya merujuk terhadap peroerangan saja, melainkan saat ini serangan siber telah merujuk pada sistem layanan publik.
Sebagai contoh bahwa pada beberapa bulan yang lalu, terdapat sejumlah instansi pemerintah yang mengalami kebocoran data, dan data pribadi masyarakat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, ironisnya lagi terdapat isu bahwa data pribadi kita telah dijual ke sejumlah pihak luar negeri.
Instansi pemerintah yang pernah mengalami kebocoran data tersebut meliputi BKN (Badan Kepegawaian Negara), Kebocoran Data Dukcapil & NPWP, dan Kebocoran Data BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.
Karena maraknya serangan siber, akhirnya pihak keamanan nasional telah berkomitmen akan memperkuat lagi sistem layanan publik dan instansi pemerintah Indonesia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, saat ini keamanan siber bukan lagi merujuk terhadap penanganan ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, melainkan merujuk kepada penguatan sistem dan ansitipasi yang kuat.
Nezar Patria menjelaskan, keamanan siber merupakan sektor yang sangat penting dan harus dikembangkan, karena siber merupakan bagian fital dari sebuah sistem pemerintahan, sistem layanan kesehatan, sistem bantuan sosial, sistem layanan administrasi, dan proses demokrasi negara.
Oleh karena itu, keamanan siber tidak boleh berfokus terhadap penanganan saat terjadi peretasan saja, melainkan harus dibangunan keamanan yang kuat layaknya benteng yang sangat besar dan sangat sulit untuk ditaklukan.
Menurut Nezar Patria, pemerintah tidak boleh hanya memperhatikan infrastruktur fisik saja, melainkan pemerintah harus fokus membangun infrastruktur digital juga seperti kabel laut yang kokoh, pusat data, cloud yang kuat, sistem identitas, dan kecerdasan buatan yang menjadi bagian dari medan strategis.
Disisi lain, Menurut Nezar Patria juga mengaku bahwa di era digitalisasi saat ini, perang bukan dilakukan dengan cara fisik atau kontak senjata, melainkan perang dapat dilakukan dengan cara yang senyap dan sunyi yakni dengan menggunakan serangan siber.
Peringatan Terbuka

Baru-baru ini, perusahaan keamanan siber internasional, Fortinet telah memprediksi bahwa pada tahun 2026 ini terdapat banyak negara yang akan mengalami serangan siber berbahaya daripada periode sebelumnya.
Serangan siber pada tahun 2026 dapat mengancam sejumlah sektor, seperti sektor industri manufaktur, energi, perbankan, e-commerce, layanan publik, dan pemerintahan.
Vice President of Marketing and Communications, APAC, Fortinet, Rashish Pandey mengatakan, ancaman serangan siber pada tahun 2026 bukan lagi bergerak dengan cepat, melainkan bergerak dengan senyap, sunyi, dan sangat sulit di deteksi oleh sistem sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang masif.
Rashish Pandey mengklaim bahwa kejahatan siber saat ini telah memasuki gelombang ketiga dan kecerdasan buatan atau AI menjadi katalisator utamanya.
Serangan siber berbasis AI mampu melancarkan serangan yang bertubi-tubi, memindai celah keamanan dengan pintar, mampu beradaptasi dengan sistem pertahanan, dan AI akan membuat serangan yang hampir mustahil dibedakan dari aktivitas manusia.
Rashish Pandey juga mengaku bahwa dulu para hacker atau para peretas handal membutuhkan waktu berhari-hari untuk membuat suatu serangan virus atau semacamnya, tetapi sekarang kecerdasan buatan mampu menciptakan ancaman serangan hanya dalam waktu sekejap.
Pertahanan Keamanan Siber Negara

Vice President of Marketing and Communications, APAC, Fortinet, Rashish Pandey mengatakan, terdpat salah satu mesin teknologi yang mampu bersaing dan menandingi kecepatan ancaman kecerdasan buatan, mesin yang dimaksud ialah machine-speed defense.
Rashish Pandey menjelaskan, machine-speed defense merupakan mesin teknologi canggih yang dirancang otomatis untuk mendeteksi, mencegah, dan memblokir aktivitas yang mencurigakan.
Bukan hanya machine-speed defense, melainkan saat ini Fortinet juga telah mengembangkan program CTN (Cyber Threat Neutralization) dimana program ini mampu memetakan pertahanan yang kuat, meminimalisir risiko ancaman siber, dan memberikan lapisan pertahanan yang kuat untuk sektor anggaran.
Menurut Rashish Pandey, tidak ada seorangpun di dunia yang mampu menandingi kecepatan ancaman siber berbasis AI, oleh karena itu, program dan mesin canggih otomatis perlu diterapkan untuk mencegah kerugian besar terjadi.