Jokowi Siap Terima Kritikan dan Fitnahan

Berita Terkini – Baru-baru ini banyak warganet yang mengkritik dan memfitnah Presiden Joko Widodo melalui lukisan di tembok pinggir jalan.

Presiden Joko Widodo mengatakan, kebebasan berpendapat di Indonesia mengalami penurunan.

Hal ini disebabkan karena saat masyarakat mengeluarkan kebebasan pendapatnya di tembok atau di tempat umum, polisi langsung menangkap dan memberikan sanksi.

“Yang namanya indeks kebebasan berpendapat turun karena ini persepsi lagi, dilihat oleh masyarakat, sekali lagi ini persepsi. Dikit-dikit ditangkap,” ujar Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo mengatakan, sebaiknya pihak kepolisisan atau pihak keamanan harus mendekatkan diri atau menyelesaikan masalah dengan baik-baik, jadi tidak sembarangan menangkap masyarakat.

Presiden Joko Widodo juga menegaskan bahwa dirinya siap menerima segala kritikan dan hinaan dari masyarakat, karena negara Indonesia bebas untuk berpendapat.

Saat Presiden Joko Widodo mendapat kritikan atau hinaan dari media sosial dan gambar di jalanan maka polisi langsung menghapus dan memberi sanksi kepada pelaku.

Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa hal itu tidak perlu dilakukan, karena berpendapat itu termasuk dalam kegiatan mural, jadi hanya urusan kecil.

“Itu sebetulnya urusan di polsek yang saya cek di lapangan, tapi nyatanya dihapus. Oleh sebab itu, beritahu kapolsek-kapolsek sampai kapolsek diberitahu. Itu (mural) urusan kecil,” ujar Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa hal itu tidak masalah sama sekali, justru kritikan dan hinaan masyarakatlah yang menjadikan dirinya lebih semangat lagi untuk bekerja membangun negara.

“Saya datang ke sebuah daerah ada mural, dihapus. Ramai, wah presiden yo urusan mural. Urusan mural aja ngapain, sih? Wong saya dihina, saya dimaki-maki, difitnah udah biasa. Ada mural aja takut, ngapain? Baca ini hati-hati,” ujar Presiden Joko Widodo.

 

Bebas Menyampaikan Pendapat

Presiden Joko Widodo mengatakan, kegiatan mural merupakan salah satu alat untuk masyarakat menyampaikan pendapatnya atau aspirasinya kepada pemerintah.

Masyarakat boleh mengeluarkan pendapatnya dengan cara apapun, namun jangan sampai mengganggu kegiatan masyarakat lainnya taau membuat gaduh dijalanan.

“Kalau menyebabkan ketertiban masyarakat di daerah menjadi terganggu, beda soal, sehingga saya mengapresiasi dibalik oleh Kapolri membuat lomba mural dan saya kira hasilnya positif,” ujar Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo juga menegaskan bahwa negara Indonesia merupakan negara demokrasi, dimana semua masyarakat dapat menyampaikan pendapatnya secara bebas.

Oleh karena itu, pihak kepolisian tidak boleh menangkap masyarakat secara sembarangan, harus dapat mengedukasi atau mendekatkan diri kepada masyarakat.

“Kritik dipanggil, mengkritik dipanggil. Kalau mengganggu ketertiban iya silakan, tapi kalau enggak, jangan. Karena kita sudah menyatakan ini negara demokrasi. Hormati kebebasan berpendapat dan serap aspirasinya. Tapi ketegasan itu juga jangan hilang dari Polri,” ujar Presiden Joko Widodo.

Leave a Comment