DMFI Temukan Penjualan Daging Anjing di Pasar Senen

Berita Terkini –¬†Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) meminta pemerintah untuk melarang perdagangan daging anjing.

Pemerintah pernah berjanji untuk menghentikan dan menindak tegas aksi perdagangan daging anjing, karena dinilai penyiksaan hewan.

Pada bulan September 2018, Kementerian Pertanian mengeluarkan surat edaran yang berisikan peringatan kepada pemimpin tingkat provinsi dan kabupaten bahwasannya peredaran daging anjing termasuk perbuatan ilegal dan ada hukum yang berlaku.

“Tindakan perlu segera diambil untuk menghambat dan menghilangkan perdagangan dan konsumsi anjing,” ujar DMFI.

DMFI mengatakan, perdagangan daging anjing ini termasuk kedalam penyiksaan hewan.

Lola Webber dari Humane Sciety International USA menyampaikan, janji untuk pengambilan tindakan oleh Kementrian Pertanian dan DMFI disambut dengan baik.

“Tapi janji perlu dibuktikan dengan komitmen untuk berubah melalui tindakan yang tegas dan berarti. Perdagangan ini secara langsung telah menyebabkan situasi darurat bagi kesehatan publik dan bertanggungjawab atas ribuan kasus kematian akibat penyebaran rabies,” ujar Lola.

 

Perdagangan daging anjing di pasar senen

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), mengawasi adanya perdagangan daging anjing di Blok 3 Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Mitfahudin, selaku Ketua DPW Ikappi DKI Jakarta menyampaikan, ia kecewa karena adanya peredaran daging anjing di pasar senen setelah bertahun-tahun tidak terungkap.

Mitfahudin mengatakan, hal ini bisa terjadi karena lemahnya pengawasan dari internal Perumda Pasar Jaya dan Pasar Senen.

“Ini kami sayangkan. Selama ini bagaimana Pasar Jaya kelola pasar. Jangan salahkan hanya (oknum) pedagang yang nakal. Jika pengawasan dilakukan secara benar, kami yakin para pedagang akan tertib dan sangat berhati-hati dalam hal ini,” ujar Miftahudin, pada Senin, 13 September 2021.

Ikappi menindaklanjuti penjual daging anjing tersebut.

Miftahudin juga menegaskan kapada penjual daging anjing di pasar senen dan dimanapun agar berhenti menjual daging anjing.

Ikappi tidak segan-segan untuk bertindak tegas sesuai hukum yang berlaku kepada siapapun yang nekat menjual daging anjing.

“Pentingnya pengelolaan SDM yang cakap berintegritas tinggi, peduli terhadap pasar rakyat serta tidak melulu memikirkan output untuk peningkatan sumbangsih PAD dari pasar rakyat,” ujar Mitfahudin.

Mitfahudin menegaskan, semoga kejadian tersebut dapat menjadi evaluasi bersama, dimulai dari Pemprov DKI Jakarta, dan pembinaan para pedagang-pedagang pasar.

“Ini bukti bahwa proses pengawasan tidak jalan. Pengelola hanya memikirkan pemasukan,” ujar Mitfahudin.

 

Investigasi penjual daging anjing di pasar senen

Baru-baru ini beredar sebuah video viral yang menunjukan praktik perdagangan daging anjing di pasar senen, Jakarta Pusat.

Video tersebut direkam oleh Animal Defenders Indonesia (ADI), video tersebut berisikan hasil penelusuran tanya jawab dengan pedagang daging anjing di pasar senen.

“Satu lapak yang kami investigasi mengaku bahwa mereka minimal menjual 4 ekor anjing dalam sehari. Mereka sudah beroperasi lebih dari 6 tahun,” tulis ADI diketerangan Instagramnya.

ADI menyatakan bahwa ada tiga lapak yang menjual daging anjing di pasar senen tersebut.

ADI juga meyakini bahwa masih ada banyak lapak-lapak lainnya yang menjual daging anjing tersebut.

“Itu baru satu lapak, di pasar itu ada 3 lapak. Maka 1 pasar saja dalam 6 tahun menghabiskan 26.280 ekor anjing. Dan masih banyak titik penjualan lainnya di DKI,” ujar ADI.

 

Dari sesi kesehatan

Banyak riset yang mengatakan bahwa, mengonsumsi daging anjing dapat menyebabkan rabies.

Rabies merupakan penyakit yang di akibatkan oleh infeksi virus yang menyerang pada sistem saraf pusat.

Hal ini dapat menyebabkan peradangan otak, dan mengancam keselamatan bagi pengidapnya.

Disisi lain, daging anjing juga dapat menyebabkan penyakit trikonosis.

Trikinosis adalah parasit yang dapat menimbulkan peradangan pada pembuluh darah manusia.

Oleh karena itu, DMFI serta IKAPPI bekerja sama untuk menghentikan perdagangan anjing di Indonesia.