Sejarah Sukarno dan Volkswagen Dengan Mobile Kodok G30S tahun 1965

Beritaterkini – Sejarah mobil Volkswagen sebelumnya dicekal masuk ke indonesia, Indonesianis Benedict Anderson memiliki kenangan tentang mobil Volkswagen (VW) milik seorang Mayor Jendral Siswondo Parman. Yang pada saat itu Parman adalah seorang Asisten Intelijen Menteri Panglima Angkatan Darat, sebelum akhirnya jadi korban G30S 1965.

“Ia tiba saat itu mengendarai VW tua berkaca gelap dan mengantar saya pada tempat yang nantinya akan saya ketahui adalah rumah persembunyian intelijen di bilangan Tanah Abang,” ucap Ben.

Ben yang ini sempat dikira sebagai agen CIA anti-komunis, maka dengan itu Parman berani mengklaim dihadapannya. Dengan sesumbar memiliki mata-mata yang hebat di dalam tubuh PKI sehingga dalam hitungan jam ia bisa tahu keputusan politbiro PKI.”

Mobile Volkswagen berasal dari Jerman dan diperuntukkan untuk rakyat pada zaman Adolf Hitler. Istilah “volkswagen” memang memiliki arti yang berarti “mobil rakyat”. Perusahaan mobil ini dirikan pada 82 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 28 mei 1937, oleh Front Buruh Jerman, organisasi buruh Partai Nazi.

Sementara kala itu di Indonesia, hanya para pejabat dan orang kaya yang bisa memiliki mobil, termasuk VW dan Parman tentu bukan satu-satunya pengendara mobil itu. Pada masa itu Orang nomor satu di indonesia 1965, Presiden Sukarno, juga pengguna mobil VW.

Dengan mobil VW, seperti yang dicatat oleh Ully Hermono dan Peter Kasenda dalam Heldy: Cinta Terakhir Bung Karno (2011), Sukarno pernah bertamu ke rumah Heldy Djafar, yang kemudian menjadi salah satu istrinya. Mobil Volkswagen ini memang terkesan tidak seperti mobil dinas resmi kebanyakan pejabat, sehingga cocok untuk perjalanan rahasia. Sukarno pernah diam-diam melakukan perjalanan ke kawasan tanjung priok.

Disaat hari yang genting sesudah terbunuhnya para petinggi seperti Mayor Jenderal Suwondo Parman, Letnan Jenderal Ahmad Yani dan beberapa jenderal lainya, Sukarno juga naik mobil ini.

Pada tanggal 30 September 1965 Malam, Sukarno datang ke rumah Ratna Sari Dewi di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) di selatan Jakarta. Pagi 1 Oktober 1965, Sukarno bergerak ke rumah istrinya yang lainnya. Sukarno kemudian pergi secara diam-diam ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah.

“Mobil Bapak yang semula Chrysler hitam dengan berplat nomor B 4747 diganti dengan mobil VW yang bernomor B 75177 berwarna biru laut. Dengan Sopir kepercayaannya,” ucap Hariyatie, salah satu istri Sukarno, dalam Hariyatie Soekarno: The Hidden Story

Sejarah Sukarno dan Volkswagen Dengan Mobile Kodok G30S tahun 1965

Dalam perjalanan yang rahasia kala itu supirnya pun bukan prajurit biasa, melainkan seorang perwira menegah bernama Letnan Kolonel Soeparto.

“Sopir Bung Karno dalam perjalanan incognito (rahasia) dulunya Anwar Ilyas, Kemudian Soeparto yang juga menjabat kepala kendaraan Istana dengan wakil, Soenarko dari anggota DKP,” sebut Mangil Martowidjojo dalam kesaksian tentang Bung Karno, 1945-1967.

Disaat Situasi nasional setelah 30 September 1965 tentu sangatlah kacau dan tidak menentu. Jangankan nasib para rakyat yang tidak pernah di kawal, bahkan nasib para kepala petinggi negara yang dikawal ratusan prajurit pilihan saja tidak jelas.

“Agar tidak kelihatan menyolok, maka perjalanan Presiden Sukarno ke Halim menggunakan mobil Volkswagen (VW) Beetle, yang di indonesia lebih populer disebut dengan VW kodok,” tulis James Luhulima dalam Kisah Istimewa Bung Karno.

VW Kodok melakukan perjalanan itu tidak sendiri ada Jeep yang tetap mengawal dari belakangnya. Sementara Chrysler ditinggal di rumah Hariyatie.

Sekitar pukul 08.30 pada 1 Oktober, para rombongan Presiden dengan VW Kodok tersebut dan jeep itu memasuki halaman depan Markas Komando Operasi di Pangkalan Udara Halim PerdanaKusumah. Setelah Kolonel Maulwi Saelan dan AKBP Mangil turun dari Jeep. Sukarno pun turun dari mobil.

Pada saat itu seperti yang dicatat Benedicta Soerodjo dan J.M.V Soeparno dalam biografi Omar Dani, Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku (2001), “Sesuai standard operating procedure (SOP) Resimen (pengawal Presiden) Tjakrabirawa, salah satu cara untuk dapat menyelamatkan kepala negara jika terjadi sesuatu dan situasi keamanan sangatlah mendesak adalah membawa ke Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusumah”

Baca Juga : Serunya Pernikahan Joe Jonas dan Sophie Turner Menurut Priyanka Chopra

Di Halim, Sukarno berada di rumah Komodor Soesanto, Direktur Operasi AURI. Sukarno dianggap aman di tempat dan kemudian membuatnya dianggap bersalah dalam tragedi 1965. Dia pergi dari Halim sekitar jam 23.00 kearah Bogor dengan mobil lainnya.

Pada malam hari itu pula D.N Aidit diterbangkan ke Solo dengan pesawat AURI sesuatu yang lalu menjadi bahan untuk memojokkan AURI. Tentu ini di perparahnya dengan lokasi penyekapan dan pembunuhan para petinggi Angkatan Darat yang berada di Lubang Buaya, tidak jauh dari pangkalan udara Halim.

Saat itu pula para pejabat yang berada di Halim 1 Oktober itu kebanyakan bernasib malang di masa Orde Baru. Tak terkecuali Sukarno.

VW kodok menjadi saksi hari-hari terakhirnya kemalangan Sukarno di Istana negara, yang dilengserkan dan dipojokkan setelah 1965. ” Bapak meninggalkan Istana Merdeka Jakarta sebelum tanggal 16 Agustus 1967.” Aku AIP Sogol Djauhari seperti kutipan dalam buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66.

Kala itu Sukarno hanya memakai celana piyama warna krem serta kaos oblong cap lombok. Sementara bajunya disampirkan ke pundak dan di kakinya memakai sandal Bata yang telah usang. Hanya dengan kondisi seperti itu Sukarno keluar dari istana menuju mobil.

“Bung Karno berjalan di depan saya. Sesampainya di mobil VW kodok milik pribadinya, saya bukakan pintu dan duduk di belakang.” aku Sogol.

Mobil VW tersebut masih di kemudikan oleh Soeparto. Setelah pintu untuk presiden tertutup, Sogol masuk mobil VW kodok itu dan duduk tepat di samping supir. Menurut Sogol, setelah itu Sukarno tidak lagi pernah menginjakkan kakinya di istana lagi hingga dirinya meninggal dunia.

Kebesarannya sebagai negarawan tak dia tampilkan ketika akan keluar dari istana, Sogol dan Soeparto menjadi saksi bahwa Sukarno keluar istana dengan pakaian ala rakyat yang bersahaja dengan mobil yang memang dirancang untuk mobil rakyat.