Ridwan Kamil : Harapkan Burung Terbang Tinggi, Punai Di Tangan Di Lepaskan

Saya memulai opini ini dengan menyebutkan kalau saya masyarakat Jawa Tengah, bukanlah Jawa Barat terlebih DKI. Walau saya pernah di beri KTP DKI abal-abal yang didapat dalam satu paket pembelian ticket KA lewat calo di Stasiun Senen. Jadi saya tidak miliki hak di dalam Pilihan gubenur DKI. Bila saya ketahui di mana tempat pengumpulan KTP Dukung Yusril, mungkin saja copy KTP DKI abal-abal itu ingin saya persembahkan buat pak Yusril.Walau bukanlah warga DKI, namun yang namanya DKI dengan status ibukota negara, tentu bikin siapa saja tergelitik untuk menyemarakkan hajatan tahun 2017 kelak, walau sebatas opini di sosmed. Termasuk juga tulisan ini. Saya tertegun waktu membaca berita kalau Ridwan Kamil bakal lakukan safari politik ke sebagian tokoh, termasuk juga pada ketua umum Gerindra, Prabowo Subiyanto.

Serta konon hari Senin tgl 29 Pebr 2016 bakal memberi ketentuan apakah bersedia turut menyemarakkan bursa Pilgub DKI 2017 melawan Ahok atau pilih konsentrasi butuhkan saat bhaktinya di Bandung yang belum selesai. Sungguh ini buah simalakama politik. Dikonsumsi Lulung mati, tidak dikonsumsi Farhat mati. Begitu dilematis. Pemimpin-pemimpin yang baik malah bakal diadu dalam 1 gelanggang oleh parpol yang tidak dapat cetak pemimpin dari kader internalnya sendiri. Kader parpol hanya repot lakukan politik biaya serta mengintip celah membobol APBD. Kang Emil posisinya tidak seperti Pilgub terlebih dulu waktu Alex Noordin hanya cuti sesaat dari jabatan Gubernur Sumsel manfaat bertarung di Pilihan gubenur DKI, serta waktu dianya jadi pecundang dengan angka 4% koma, masihlah dapat balik lagi ke pos lama. Undang-Undang paling baru mengharuskan Emil melepas jabatannya.

Seperti peribahasa ; berharap burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan. Yang pastinya dilepaskan, yang belum tentu diinginkan. Namun itu hak kang Emil sih, meskipun mungkin saja dia mesti berkompromi dengan koalisi parpol oportunis yang pasti bakal menitipkan bebagai agenda kebutuhannya.Saya tak mempersoalkan ingin menang siapa kelak, lantaran saya yakin beberapa orang baik serta amanah seperti Ahok serta Kang Emil pastinya akan memperoleh tempat mengabdi di republik ini. Bila Ahok yang menang, mungkin kang Emil malah ditarik Jokowi jadi menteri manfaat menukar Yudhi Chrisnandi. Kalau kang Emil yang kalah, masihlah ada kesempatan menggusur Aher di Pilgub Jawa barat.

Yang lain tidak usah dihitung lah. Ahmad Dhani, Farhat Abbas, Haji Lulung, termasuk juga Yusril yang saya sumbang KTP abal-abal, hanya beberapa kumpulan pecundang yang numpang ngetop melalui hajatan ini. Saya malah cemas bila benar berlangsung head to head pada Ahok vs Emil, peristiwanya nyaris sama dengan pilpres lantas di mana black champaigne serta fitnah bertebaran di sosmed. Kasihan bila umum sangat terpaksa mengkorek korek serta mencari mencari borok mereka untuk ditelanjangi untuk misi sama-sama mendiskreditkan rivalnya. Saya pribadi terasa ngeri dengan kesibukan beberapa cyber army yang demikian aktif menghasilkan berita berita fitnah, serta lalu diberikan dengan cara massal di media sosial oleh simpatisannya.

Republik ini bakal terbelah dua lagi didunia maya dengan kandungan kebencian serta permusuhan level akut. Politik bakal mengenai benturkan rakyatnya. Yang kalah pilpres saja banyak yang belum move on, ini selekasnya menyusul pertarungan akbar setelah itu.Alangkah indahnya bila beberapa pemimpin yang baik serta amanah malah menebar di beberapa daerah, agar negeri ini semakin maju, serta jenis pemimpin yang suka korupsi dan poligami tak laris.