Pendapat Jim Rogers Tentang Yuan Kontra Dengan Trump

Beritaterkini.biz – “Sementara AS secara konsisten menuduh saingan perang dagangnya China dalam manipulasi mata uang, Washington harus disalahkan atas melemahnya yuan baru-baru ini,” ungkap investor Jim Rogers.

Rogers berpendapat bahwa jika seseorang menempatkan miliaran dollar berbentuk produk Tiongkok, itu akan memberi efek kepada nilai mata uang. Ia menambahkan bahwa sementara People’s Bank of China dapat mengubah nilai tukar renminbi, rangkaian peristiwa baru-baru ini dapat dijelaskan oleh hukum dasar ekonomi.

Ia mengungkapkan bahwa siapa pun yang memiliki pengetahuan ekonomi tahu bahwa ketika seseorang menekan ekonomi dengan tarif yang besar, itu akan mempengaruhi mata uang.

Pelemahan yuan sebenarnya dapat membantu Beijing untuk mengimbangi dampak tarif Washington terhadap ekspor Cina. Karena mata uang nasionalnya menurun, produk China menjadi lebih murah untuk dijual di luar negeri. Imbasnya, AS khawatir tidak akan bisa menjual barang produksi lokal sementara ada banyak produk China yang lebih murah di pasar dikarenakan melemahnya yuan.

Keputusan China ini membuat barang-barang produksi AS menjadi lebih mahal di pasar dan itu akan membuat AS lebih kesulitan untuk menjual produk mereka di pasar dunia.

Namun, penurunan yuan juga memiliki kerugian, menurut Rogers, seperti peningkatan biaya hidup dan produksi karena semua yang diimpor Tiongkok menjadi lebih mahal.

Konflik perdagangan antara negara dengan ekonomi terbesar di dunia telah menyebabkan tarif yang setara pada produk yang bernilai miliaran dollar. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini membuat suasana semakin panas ketika ia mengancam Beijing dengan tambahan tarif 10 persen pada sisa $ 300 miliar impor China, di atas $ 250 miliar barang-barang China yang sudah dikenakan pajak sebesar 25 persen.

Sebagai tanggapan, Pemerintah Pusat Beijing memerintahkan penghentian pembelian ekspor pertanian AS. Ini merupakan suatu langkah yang bisa melukai para petani di Amerika. Dengan demikian, pemerintah China mungkin berencana untuk memukul balik di tepat di para petani yang sebagian besar memilih Trump dulu. Kemudian, China akan hanya duduk dan menunggu sampai masa jabatan Trump berakhir.

Tidak ada yang pernah menang dalam perang perdagangan, dan itu tidak hanya menyangkut sisi yang saling bertentangan tetapi seluruh pasar global, menurut Rogers. “Tidak ada perang dagang dalam sejarah yang tidak pernah baik bagi siapa pun. Bahkan jika seseorang berpikir dia menang, dia kalah. Semua orang kalah, ” ungkap Rogers.