Memusnahkan Seluruh Barang Bukti Narkoba Yang Telah Disita

Beritaterkini.bizBeritaterkini, Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan barang narkoba yang diamankan dari bandar jaringan nasional maupun internasional, Selasa (15/8/2017).

Pemusnahan dilakukan di Garbage Plant Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Yang menghadiri acara tersebut antara lain Jaksa Agung Muda Pidana Umum Noor Rachmad, Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Aziz, Kepala BNN Budi Waseso, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, sampai dengan kru dari beberapa maskapai penerbangan.

Total dari seluruh barang bukti yang dimusnahkan di lokasi tersebut yaitu 1,4 ton sabu dan 1,2 juta butir ekstasi.

Selain daripada itu, di beberapa Polda di Indonesia, secara bersamaan juga dimusnahkan 2,73 ton ganja, 1,4 ton sabu, 1.264.445 butir ekstasi, 36.000 happy five, dan 5,6 juta butir psikotropika golongan IV.

Direktur Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri Bridhen Pol Eko Daniyanto mengungkapkan, pemusnahan narkoba dilakukan dengan tujuan menghindari penyimpangan barang bukti yang sudah disita.

“Sebagai bentuk transparansi tugas Polri dan BNN sampai dengan masyarakat tahu barang bukti berupa narkoba yang sudah disita petugas benar-benar sudah dimusnahkan,” ucap Eko, dalam sambutannya, Selasa siang.

Eko mengungkapkan, barang bukti dapat dieksekusi apabila telah mendapatkan ketetapan dari pengadilan negeri.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolri Jenderal Pol Tito mengungkapkan, selama ini muncul anggapan bahwa polisi sering menggelapkan barang bukti narkotika yang telah disita.

Acara pemusnahan dilakukan secara terbuku untuk menghindari pandangan dan anggapan miring seperti itu.

“Secepat mungkin jika ada izin pengadilan negeri, sudah disisihkan sesuai dengan kesepakatan, maka sisanya segera dimusnahkan,” ucap Tito.

Sementara itu, Tito juga menghimbau petugas agar barang bukti itu diberikan penjagaan yang khusus.

Tidak hanya penyidik yang menangani perkara, tetapi juga diturunkan tim dari Divisi Provesi dan pengamanan Polri dan Inspektorat Pengawasan Umum serta daerah agar tidak terjadi lagi kebocoran.

“Semua komandan, pimpinannya, harus tegas ke anggota. Ancam kalau ada macam-macam, beri tindakan hukum,” ucap Tito.

( Berita Terkini )