Mahasiswa UNS Tewas Saat Mengikuti Diklatsar Menwa, Berikut Kronologinya

Berita Terkini –¬†Baru-baru ini warganet dihebohkan dengan meninggalnya mahasiswa UNS saat mengikuti Diklatsar Menwa.

Diketahui mahasiswa tersebut bernama Gilang Endy Saputra angkatan 20, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah.

Gilang Endy meninggal dunia saat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar Rasimen Mahasiswa di Jurug Jebres Solo, pada 24 Oktober 2021.

Ahmad Yunus, selaku Wakil Rektor UNS Bidang Akademik dan Kemahasiswaan mengatakan, tidak ada lebam dan darah ditubuh Gilang Endy.

“Pada saat jenazah belum diautopsi, saya lihat mata ditutup dengan daun lembut seperti jamu. Saya tidak bisa melihat memar atau tidak,” ujar Ahmad Yunus.

“Sekilas secara fisik saya tidak bisa melihat darah karena dari RS sudah dibersihkan. Mulai dada sampai perut tidak ada tanda-tanda merah atau hitam,” sambungnya.

Ahmad Yunus juga mengatakan bahwa kegiatan Diklatsar Menwa sudah berjalan 2 hari, sudah berjalan dari tanggal 23 Oktober 2021.

“Berdasarkan yang kami ketahui, pengakuan pihak panitia, benar bahwa kegiatan ini mulai 23 Oktober 2021. Akan tetapi, mulai penyambutan pada pukul 06.00 sampai berakhir pukul 23.00 WIB berkegiatan di sekitar kampus,” ujar Ahmad Yunus.

Orang tua korban masih tidak terima dengan kejadian tersebut, dan melaporkan kasus kematian Giland Endy ke kepolisian.

Setelah kasus ditangani oleh kepolisian, polisi menemukan adanya tanda-tanda tindak kekerasan.

Saat ini Polresta Surakarta sudah melakukan penyidikan dari kasus kematian Gilang Endy.

“Penaikan status menjadi penyidikan setelah kami memeriksa 18 saksi dari kejadian tersebut,” ujar Kapolresta Surakarta Kombes Pol. Ade Safri Simanjutak.

Kapolresta juga meminta keterangan atas pihak kampus seperti dosen, peserta, panitia, dan pelatih dalam kegiatan Diklatsar Menwa UNS.

Kapolresta juga mengatakan bahwa kasus tersebut sudah dikirimkan surat penyidikan ke jaksa penuntut umum (JPU) agar penyedikan dapat berjalan sampai tuntas.

“Kami masih terus mengumpulkan barang bukti terkait dengan dugaan kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” ujar Kapolresta.

 

Kronologi

Saat melakukan kegiatan Diklatsar Menwa, korban sempat mengeluh kakinya mengalami kram, dan sempat didampingi oleh panitia.

Pada sore hari, korban sempat mengikuti kegiatan senam senjata dan repling yaitu meluncur dari tebing atas kebawah.

Saat kegiatan tersebut selesai, korban sudah kembali ke kampus dengan aman dan beristirahat.

“Bakda subuh, mulai senam senjata, apel pagi, hingga melakukan kegiatan di luar kampus, tepatnya di Jembatan Jurug. Ada kegiatan meluncur dari atas ke bawah (repling), almarhum ikut kegiatan dan dia balik ke kampus,” ujar Kapolresta.

Namun pada malam hari, korban mengeluh kepada panitia bahwa punggungya terasa sakit, dan sudah dilakukan perawatan dengan mengompres punggung.

Selang beberapa waktu, korban mulai tidak sadarkan diri dan mengigau, sekitar pukul 21.00 WIB.

Panitia dan anggota mulai membawa korban ke rumah sakit, saat perjalanan ke rumah sakit keadaan sang korban tambah parah.

Pada pukul 22.05 WIB, saat korban masih dalam perjalanan ke rumah sakit, diketahui korban sudah tak beranafas.

 

Belum Ada Tersangka

Kapolresta mengatakan, sampai saat ini belum ada yang ditetepkan atau dicurigai sebagai tersangka.

Polisi masih terus melakukan penyidikan dan menunggu hasil autopsi dari jenazah korban.

Diketahui pihak rumah sakit akan menginformasikan hasil autopsi dalam waktu dekat.

“Hasil resmi autopsi akan disampaikan dalam waktu dekat ini,” ujar Kapolresta.

Kapolresta juga mengatakan bahwa kasus ini akan diusut tuntas se adil-adilnya dan melakukan evaluasi, agar kejadian serupa tidak terulang lagi.