Kenapa Besar Selalu Menang ? Bebas Berbuat Sesuka Hati

Beritaterkini.biz – Kenapa di Papua ada kasus dimana orang mau dirikan masjid dilarang? Karena jumlah warga nasrani nya disitu jauh lebih banyak. Nekat? Gue hajaarrr loe !!!

Kenapa di Aceh ada kasus warga nasrani mau membangun gereja susahnya setengah mati? Ini Aceh bung, mayoritas adalah muslim. Gak mau ikut aturan? Gue bakar rumah ibadah loe, mau apa ???

Kenapa bus malam berani menyalip meskipun arus dari jalur didepannya tidak benar-benar aman? Karena body nya lebih besar, Mau tumbukan juga menang. Jadi mobil kecil yang dari arah sono tolong menepi ya, Ini gue mau lewat.

Kenapa Aremania berani melakukan sweeping kepada kendaraan plat L? Ya karena mereka melakukannya di kota Malang dan banyak temannya. Kalau di Surabaya giliran mereka yang disweeping. Belum pernah saya dengar Aremania melakukan sweeping di Surabaya.

Kenapa seorang pemuda kurus kering berani mengobrak abrik warung mesum remang remang yang konon dijaga 5 preman bertato? Ya karena dia datang bersama 500 orang temannya yang pakai uniform ormas sambil bawa pentungan. Coba dia datang sendiri, paling-paling menyamar jadi pemulung.

Kenapa saya tak berniat terjun ke politik? Gue sadar jika gue orang Kristen (untung suku gue Jawa), Dan peluang terpilih jadi Bupati atau Walikota sangat kecil, Mengingat isue SARA masih laku di republik ini. Kata MS Kaban, Mana boleh minoritas memimpin mayoritas? Ah, mungkin kepala MS Kaban pernah kebentur pintu saat tidur di sel tahanan.

Kenapa saya tak berani menulis yang keras dan ekstrem jika menyangkut soal agama? Gue sadar ini sangat sensitif, dan gue minoritas. Salah pilih kata bisa halal darah saya. Takut banget, ntar anak saya minta SPP ke siapa?

Kenapa membunuh begal motor seakan tidak ada hukumnya? Namanya juga massa bung, gak jelas siapa yang gebukin duluan dan saat gebukan keberapa nyawa si begal melayang. Kalau sudah menyebut sebagai ‘massa’ dan jumlahnya banyak, maka boleh menciptakan hukumnya sendiri.

Capek dan bosan membicarakan tentang mayoritas dan minoritas. Yang ideal dan bagus cuma ada di tataran wacana atau diatas kertas. Prakteknya di alam nyata tetap saja tirani mayoritas sulit dihindari. Kualitas mental kita memang masih begini. Saat warga Papua melarang pendirian masjid, mana mau mereka berpikir bahwa saudara seiman mereka di Bogor atau di Aceh atau di Banten bakal mendapatkan pembalasannya.

Benar kata Iwan Fals di syair lagunya. Mengapa besar selalu menang, bebas berbuat sewenang wenang. Mengapa kecil selalu menyingkir, selalu tertindas dan tersingkir. Apa bedanya besar dan kecil? Semua itu hanya sebutan.

Itu harus jadi renungan kita bersama, yang masih menghargai hak asasi, kesetaraan warga negara, dan toleransi.