Dikarenakan Kelakuan Pemberontak, Enam Tentara Ukraina Tewas Tertambak

Beritaterkini.bizBeritaterkini, Bentrokan dengan pemberontak yang didukung oleh Rusia membuat enam tentara Ukraina tewas, Kamis (20/7/2017).

Kekerasan tersebut terjadi beberapa hari setelah seorang pemimpin pemberontak memberitahukan rencana mereka untuk membentuk “negara” baru yang disebut dengan Malorossiya.

Juru bicara militer Ukraina, Andriy Lysenko, mengungkapkan bahwa pemberontakan membunuh enam tentara dan melukai dua lainnya di sekitar Donetsk, ibu kota de facto pemberontak, dalam 24 jam sebelumnya. Tiga tentara lainnya terbunuh dan tiga terluka pada saat kendaraan mereka berjalan di sebelah barat laut kota Lugansk, demikian Lysenko mengumumkan.

Selain daripada itu, sebuah kantor berita separatis menuduh Kiev melukai tiga warga sipil dalam sebuah pengeboman dengan persenjataan yang berat.

Kepala pemberontak di Donetsk, Alexander Zakharchenko, Selasa (18/7/2017), memberitahukan rencana untuk menciptakan “negara” baru untuk menggantikan Ukraina. Negara bernama Malorossiya yang ingin digunakan pemberontak, meliputi sebagian besar Ukraina modern dengan ibu kotanya di Donetsk.

Negara baru itu akan dibentuk setelah sebuah referendum. Nama Malorossiya tersebut digunakan di zaman Tsar yang berarti “Rusia Kecil” dan mencakup semua wilayah Ukraina modern sekarang ini.

Sebuah konstitusi yang dibuat oleh pemimpin pemberontak Alexander Zakharchenko menyebutkan semua perwakilan dari negara Donetsk dan Lugansk serta beberapa daerah lain telah sepakat untuk membentuk negara baru sebagai penerus Ukraina.

Dokumen yang dirilis oleh kantor berita kelompok separatis itu mengungkapkan, Donetsk akan menjadi ibu kota negara baru ini sementara status Kiev akan diturunkan menjadi pusat “sejarah dan budaya”.

Sementara daripada itu, pemimpin Republik Rakyat Lugansk Vladimir Degtyarenko membantah ikut serta dalam rencana tersebut. Degtyarenko juga mengatakan keraguannya terhubung dengan keputusan tersebut. Demikian yang dilaporkan Degtyarenko pusat informasi Lugansk.

“Keputusan semacam ini hanya bisa diambil jika didasari keinginan rakyat. Selain itu, saat ini kami sedang memenuhi kesepakatan Minks dan tak ada alternatif untuk itu,” ucap Degtyarenko.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko dengan tegas mengatakan, pemerintahannya akan memulihkan kedaulatan atas kawasan Donbass dan Crimea.

Poroshenko memperkirakan proyek pembentukan negara Malorossiya ini akan berakhir dengan kegagalan seperti proyek sebelumnya, negara Novorossiya.

Kremlin sempat menggunakan nama Novorossiya atau Rusia Baru untuk menyebut kawasan yang direbut oleh pemberontak, akan tetapi kemudian membatalkan penggunaan istilah tersebut.

( Berita Terkini )

Leave a Comment