Banyak Pasien Yang Melakukan Perawatan Estetika Malu Apabila Diketahui Oleh Orang Sekitarnya

Beritaterkini.bizBeritaterkini, Banyak orang yang merasa penampilannya masih kurang sempurna. Perawatan estetika, baik operasi plastik atau nonbedah, menjadi sebuah pilihan yang banyak dipilih orang untuk memperbaiki penampilannya. Akan tetapi, mereka merasa malu apabila orang lain tahu perawatan apa yang dilakukannya.

Dalam sebuah survei pada tahun 2016 yang dilakukan pada 913 wanita dari Taiwan, Singapura, dan Thailand, terbukti bahwa 82 persen ingin melakukan tindakan estetika. Akan tetapi, lebih dari separuh responden yang mengaku takut dengan stigma dari orang di sekitarnya.

Sebelum melakukan prosedur perawatan estetika, 44 persen pasien tidak berani bercerita karena takut dinilai negatif. Akan tetapi, setelah perawatan dan mendapati hasil yang memuaskan, mayoritas mulai terbuka pada pasangan atau teman mengenai tindakan estetika yang dilakukannya.

Faktanya, 80 persen responden mengungkapkan bahwa lingkungan sekitarnya tidak menghakimi atau menilai buruk terhadap tindakan estetika yang sudah dilakukannya.

“Punya wajah cantik atau tampan dari lahir itu anugerah, tapi tetap cantik saat tua dibutuhkan perawatan,” ucap dr.Olivia Ong.

Selain stigma yang masih melekat pada perawatan estetika, ketakutan terbesar pasien merupakan hasil yang akan terlihat tidak alami.

“Kebanyakan pasien tak mau terlihat tidak natural. Semua menginginkan yang natural look,” ucap dr.Lanny Juniarti, Dipl.AAAM, President Director Miracle Clinic.

Untuk bisa mendapatkan hasil yang di harapkan, menurut dr.Lanny yang terpenting merupakan komunikasi antara pasien dan dokter.

Ia mengungkapkan, seringkali pasien datang sudah dengan foto idolanya dan meminta dokter melakukan tindakan estetika agar penampilannya mirip dengan selebriti idolanya.

“Tentu dokter harus menganalisa dulu. Setiap orang punya kecantikan individu dan ada karateristik yang tidak bisa dihilangkan. Wanita Indonesia tidak harus cantik seperti orang Korea. Kepribadian dan karateristiknya belum tentu cocok,” ucapnya.

Mengarahkan

Walau dokter mengakomodasi harapan dan keinginan dari pasien, akan tetapi dokter juga wajib mengarahkan terapi yang tepat terhadap pasien agar hasilnya proporsional.

Hal senada diungkapkan oleh dr.Adri Dwi Prasetyo Sp.KK. Persepsi cantik serta tampan para pasien berbeda-beda. Dokter yang baik wajib mengedukasi pasiennya.

“Ada pasien yang datang tanpa masalah spesifik, pokoknya terserah dokter mau lakukan apa. Tapi, ada juga pasien yang datang dengan masalah spesifik namun tak paham estetika sehingga hasilnya bisa tidak natural,” ucap Adri.

Menurut pendapatnya, agar hasil akhir dari perawatan estetika sesuai dengan yang di inginkan, bukan hanya pendapat dokter yang perlu didengar, akan tetapi juga keinginan pasien. “Harus ketemu di tengah-tengah. Dokter harus menjelaskan agar pasien mengerti secara perspektif medis,” ucap pendiri Rejuva Clinic di Surabaya ini.

Setiap tindakan estetika, baik dengan pembedahan atau nonbedah, harus disesuaikan dengan anatomi pada wajah dan kecantikan yang ideal. “Kecantikan ideal ini berbeda-beda. Tentu versi orang Barat berbeda dengan versi Asia,” ucapnya.

( Berita Terkini )

Leave a Comment