AS: Rusia Tak Akan Pernah Menjadi Teman Kami

Beritaterkini.biz – Nikki Haley, ambasador AS di PBB, melakukan hujatan terhadap Rusia. Ia memperingatkan bahwa Rusia akan “tidak pernah menjadi teman Amerika.”

Haley menekankan bahwa walaupun Moskow berperilaku selayaknya negara-negara lain, AS tetap akan ‘menapar’ mereka bila perlu.

Duta Besar AS ini dikenal akan sikapnya terhadap Moskow, tetapi pandangan barunya tentang hubungan AS-Rusia menonjol. Berbicara di Universitas Duke di North Carolina pada hari Jumat (6/9), Haley mengakui bahwa hubungan persahabatan dengan Rusia adalah prospek yang tidak mungkin. Ia menambahkan bahwa tim Trump telah melakukan lebih banyak terhadap Moskow daripada pemerintahan lain sejak masa jabatan Ronald Reagan.

“Rusia tidak akan pernah menjadi teman kami,” kata Haley kepada siswa pada sesi tanya jawab, menanggapi pertanyaan tentang “meminta pertanggungjawaban Rusia” karena diduga ikut campur dalam pemilihan presiden 2016. Diplomat itu mengatakan Washington masih bekerja dengan Moskow hanya ketika AS perlu. Dan ketika Rusia butuh ‘tamparan’, AS juga akan dengan senang hati melakukannya.

Dia kemudian mengatakan lebih lanjut, ‚ÄúSemua orang suka mendengarkan kata-kata. Saya akan memberi tahu Anda – lihat aksinya,” tekan Haley. “Kami mengusir 60 diplomat / mata-mata Rusia, kami telah mempersenjatai Ukraina sehingga mereka dapat membela diri,” tambahnya.

Menurut utusan PBB, AS melakukan dua hal yang Rusia tidak pernah ingin AS lakukan, yaitu memperbesar militer dan memperluas kebijakan energinya. Menurutnya, Trump telah melakukan lebih banyak hal terhadap Rusia dibandingkan presiden manapun sejak Reagan terakhir menjabat.

Ia juga menegaskan bahwa semua orang belum melihat akhir dari apa yang administrasi Trump sedang lakukan terhadap Rusia.

Mendinginkan suasana dalam pidatonya, Haley mengatakan AS dan Rusia memang bekerja sama di Afghanistan dan Afrika, dimana mereka memiliki kepentingan yang sama. Sementara itu, dia mengklaim, “hubungan kita dengan Rusia tergantung pada Rusia.”

Namun, kepemimpinan Rusia dapat membuat hidup lebih mudah jika mereka memutuskan untuk menjadi aktor yang baik dan berurusan dengan komunitas internasional seperti negara-negara biasa, ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa “mereka akan melihat lebih banyak negara ingin bekerja dengan mereka.”

Topik mengenai dugaan campur tangan Moskow dalam proses demokrasi AS tampaknya melebar, meskipun tidak ada bukti kuat yang disampaikan sejauh ini kepada publik. Moskow telah berulang kali menepis klaim. “Sampai kita melihat fakta, segalanya akan menjadi omong kosong,” kata Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov di Munich bulan lalu.

Namun, mungkin ada tanda-tanda perbaikan hubungan. Donald Trump baru-baru ini menyarankan bertemu pemimpin Rusia Vladimir Putin di Washington, DC. Pada bulan Maret, ia mengatakan kedua pemimpin akan bertemu dalam waktu yang tidak dekat untuk membahas tentang penggunaan senjata yang sudah diluar kendali. Putin dan Trump sejauh ini telah bertemu dua kali.

Pertemuan pertama terjadi selama KTT G20 di Jerman Juli lalu, dan yang kedua terjadi di sela-sela KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik di Vietnam pada bulan November. Presiden Putin, serta beberapa pejabat Rusia, terus-menerus mengisyaratkan kesiapan Moskow untuk meningkatkan hubungan dengan AS dan Barat.